-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Ramadan, Refleksi Spiritual dan Sosial dalam Andil Seimbangkan Semesta

Kamis, 06 Maret 2025 | 04.33.00 WIB | 0 Views Last Updated 2025-03-05T21:53:38Z


RAMADAN merupakan bulan penuh berkah, dimana setiap Muslim dianjurkan meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki diri dalam segala aspek kehidupan, menanggung amanah sebagai 'Abdullah dan Khalifah di bumi. Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk merefleksikan peran kita, khususnya menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan kondisi sosial saat ini. Kepedulian terhadap sesama, menjaga lingkungan, bersikap responsif atas berbagai peristiwa, mencerminkan pengamalan nilai-nilai keislaman ditengah masyarakat.


Selayaknya 'Abdullah (seorang hamba), manusia dituntut senantiasa tunduk dan taat kepada Allah. Ramadan mencipta peluang emas memperkuat koneksi spiritual dengan Sang Pencipta melalui puasa, shalat, membaca Al-Qur’an, maupun bentuk ibadah lainnya. Puasa mengajarkan kesabaran, keikhlasan, dan ketundukan total tertuju ke Sang Khalik. Dengan menahan lapar dan dahaga, manusia diajak untuk menyadari hakikat dirinya sebagai hamba yang lemah dan bergantung kepada Allah, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur'an: "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku" (QS. Adz-Dzariyat: 56).


Disisi lain, tugas sebagai khalifah Allah di bumi, manusia diwajibkan menjaga keseimbangan dan keadilan dalam kehidupan, baik terhadap diri sendiri, keluarga, masyarakat, alam semesta. Setiap individu diberikan kesempatan memperbaiki diri dalam menjalankan peran kekhalifahannya, misalnya, melalui zakat dan sedekah, seseorang dapat membantu sesama yang membutuhkan. Firman Allah SWT: "Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik" (QS. Al-Baqarah: 195). Selain itu, Rasulullah SAW juga bersabda, "Sedekah yang paling utama adalah sedekah di bulan Ramadhan" (HR. Tirmidzi). 


Tercermin nash diatas, ramadan laksana ajang bagi setiap individu untuk meningkatkan etika dan akhlak, serta memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Adapun konteks kekhalifahan terhadap alam, Ramadan seharusnya dijadikan acuan dasar berbuat lebih bijaksana dalam memanfaatkan sumber daya alam. Contoh paling sederhana, mengonsumsi makanan berlebihan, melakukan pemborosan energi seringkali terjadi di bulan ini. Padahal, esensi Ramadan mengajarkan kesederhanaan dan pengendalian diri. 


Kemudian kasus yang terjadi di Jembatan Makrampai, Kecamatan Tekarang, Kabupaten Sambas, begitu banyak sampah sejauh mata memandang, menumpuk akibat kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan, diperparah insiden seorang pemuda saling baku-pukul hingga menimbulkan korban. Catatan miring ini idealnya menghadirkan bahan evaluasi bahwa Ramadan bukan hanya sekadar ibadah ritual, tetapi juga sarana memperdalam pemahaman tentang amanah yang diemban manusia. 


Silih bergantinya kasus ketidakadilan, konflik, dan krisis moral, tentu bulan mulia ini dicitakan mampu memperbaiki kualitas hubungan terhadap sesama. Ketidakpedulian sosial, kekerasan, dan kurangnya empati mengingatkan kita bahwa tugas sebagai khalifah Allah di muka bumi belum sepenuhnya dijalankan. Oleh karena itu, semoga Ramadan ini menumbuhkan komitmen dalam menjalankan peran 'Abdullah dan Khalifah (Pemimpin) secara beriringan, serta semakin sadar akan tanggungjawab kita selaku insan yang diamanahi tugas 'berkelas' oleh Allah SWT.



Penulis: Ari Yunaldi, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) IAIN Pontianak

×
Berita Terbaru Update